Cerita Pendek: Pelanggan Kaya

Ini adalah cerita fiksi yang idenya muncul begitu saja saat saya sedang duduk menunggu bakso saya siap sambil memandangi minimarket di seberang jalan. Entah kenapa saya jadi berimajinasi ketika ada ibu-ibu yang membawa payung motif bunga di siang bolong. Ya, ibu-ibu itu pakai jaket tebal, rok kain abu-abu, dan memakai masker. Yang paling mencolok adalah payungnya, kontras dengan warna pakaiannya yang senada. Ok, sudah cukup mengenai asal inspirasi ide ini, mari kita lanjut ke cerita.





Begini, kupikir aku tidak seharusnya menceritakan ini padamu. Kupikir ini salah dan kau mungkin tidak akan percaya. Kau mungkin akan menganggapku berlebihan atau terlalu mengada-ada. Namun aku harus menceritakan ini padamu, aku tak tahu apakah aku masih tetap waras jika menyimpannya sendiri.

Baiklah. Kejadiannya dimulai pada saat sudah genap 2 bulan aku bekerja di minimarket dekat stasiun. Aku mendapat sift malam. Sift malam adalah waktu yang bagus untukku bersantai, karena memang pelanggan tidak seramai siang atau sore hari. Aku merasa beruntung karena tidak harus melayani pesanan pelanggan yang biasanya cerewet.

Malam itu seperti malam-malam biasanya. Aku masih duduk di balik meja kasir sambil mendengarkan musik rock di radio tua yang kubawa. Kereta terakhir di stasiun sudah berangkat. Saat itu aku sadar udara di dalam minimarket jadi terasa sangat dingin. Aku mengambil remote ac dan mematikan beberapa ac supaya udara di sini tidak beku. Kemudian aku berjalan ke luar minimarket untuk menghirup udara segar.

Perlu kau tahu di depan minimarket tempatku bekerja ada sebuah gedung yang dijadikan sekolah dasar beberapa tahun silam setelah sekian lama sengketa. Dulunya gedung itu digunakan sebagai rumah dan pabrik rumahan yang kemudian bangkrut.

Saat itu kulihat ada sosok hitam bergerak lambat-lambat dari dalam gedung SD itu. Dari ukuran tubuhnya aku bisa tahu sosok itu adalah seorang laki-laki dewasa. Dia semakin mendekat hingga sampai di bawah lampu jalan yang entah kenapa pada hari itu redup. Kemudian aku dapat melihatnya dengan jelas. Dia adalah seorang ibu-ibu berusia sekitar kepala 5 yang mengenakan pakaian tipis di malam yang dingin. Bukannya aku percaya dengan takhayul atau apa, namun saat itu aku seperti bisa merasakan adanya aura gelap di belakangnya. Seperti asap hitam yang sangat pekat bergerak-gerak di belakangnya.

Aku merasa ngeri melihatnya dan memutuskan untuk kembali ke tempatku di belakang meja kasir. Setidaknya di situ aku bisa merasa tenang. Entah jam berapa itu, tapi tidak terlalu lama sejak aku merasa nyaman pintu minimarket terbuka, ada pelanggan yang datang. Aku tidak terlalu memperhatikannya karena sedang sibuk membalas chat di telepon genggamku.

Sepertinya pelanggan ini membeli banyak barang atau dia ragu-ragu ingin membeli apa. hampir setengah jam dia berkeliaran di antara rak-rak bagian bahan makanan. Aku memeriksa lewat cctv mencegah hal-hal yang tidak diinginkan. Yup, benar dia membeli banyak makanan, terutama makanan instan dan beberapa makanan kaleng.

Kemudian dengan langkah cepat dia membawa keranjangnya ke kasir. Apa yang kulakukan saat itu hanya diam mematung. Aku tidak mampu berkata-kata. Kengerian saat di luar minimarket beberapa waktu lalu kembali menyerangku. Aura hitam itu seolah-olah merayap dan masuk melalui lubang hidung dan mencengkram paru-paruku. Aku merasa sesak.

Kemudian aku bisa bergerak dan bicara dengan tergagap setelah dia menaruh belanjaannya di meja kasir dan menanyaiku berapa harganya. Sampai sekarang aku tidak dapat melupakan bagaimana suaranya. Suaranya halus dan dingin sedingin malam itu. Suaranya bahkan mampu membuat bulu-bulu di tubuhku berdiri ketakutan.

Dengan suara gemetar dan gagap, aku memberitahu total belanjaannya dan berapa uang yang harus dia bayar. Lalu dengan tangan gemetar aku membungkus semua barang belanjaannya dalam 5 buah kantong plastik ukuran besar.

Aku bisa tenang setelah dia benar-benar pergi dari sudut mataku dengan membawa aura hitamnya. Aku menghitung uang yang kuterima di tanganku dan ternyata lebih 3 ratus dolar dari yang seharusnya dia bayarkan. Aku termangu beberapa menit memikirkan apa yang sebaiknya kulakukan dengan uang kelebihan itu. Aku orang jujur, sudah merupakan instingku untuk melakukan kejujuran dan mengembalikan uang itu. Namun di lain sisi aku juga ketakutan setengah mati dengan pelanggan satu itu.

Namun kejujuranku mengalahkan rasa takutku. Aku ke luar minimarket dengan kaki gemetar. Menoleh ke kanan dan ke kiri mencari si pelanggan menyeramkan itu. Aku berjalan sedikit lebih jauh dari minimarket. Dan ketika aku sampai di lampu jalan depan minimarket, aku melihatnya. Wanita yang sebelumnya kulihat. Wanita itu sekarang berada di dalam sebuah mobil keluarga. Dia menatapku tajam sambil memegang makanan kaleng seolah mengatakan, "Sudah cukup." Aku tidak tahu dari mana pikiran itu berasal. Aku hanya merasakannya saja.

Untuk beberapa saat aku masih terpaku di tempatku. Wanita itu mulai bergerak-gerak dengan tidak normal. Momen di mana ketika kau ingin berlari tapi kakimu seperti menyatu dengan trotoar, itulah yang terjadi padaku waktu itu. Beruntungnya aku ketika telepon genggamku bergetar. getaran kecil itu sudah cukup membuatku dapat mengendalikan kakiku lagi. Aku mencoba berlari sekaligus meminta pertolongan. Siapa pun itu.

Aku sudah hampir sampai di minimarket tempatku bisa merasa aman ketika kakiku mulai goyah dan pandanganku mulai menggelap. Kemudian aku merasakan tubuhku roboh dan menimpa paving trotoar. Kepalaku terasa sakit.

Entah berapa lama aku pingsan. Tenggorokanku kering, aku butuh air. Aku mencoba bangun dan mencari botol minuman atau apapun yang dapat diminum. Tapi kau tahu, tanganku tidak dapat digerakkan. Telapak tanganku dipaku di atas pegangan kursi. Dari paku berkarat yang masuk di telapak tanganku itu aku bisa melihat darah mengalir. Tentu saja aku berteriak. Aku meronta tapi itu hanya membuat tanganku semakin tersiksa. Setiap gerakan yang dibuat oleh tanganku semakin memberikan luka yang menyakitkan. Aku panik, benar-benar panik.

Setelah aku lelah berteriak, aku mengedarkan pandanganku sebatas yang bisa kulihat. Aku memperhatikan ruangan yang hanya diterangi satu lampu bohlam di dekat pintu ini. Ada poster-poster cheerleaders yang sedang berpose membentuk piramid. Salah satu wajah dari grup cheerleaders itu ditandai tiga tanda silang dengan tinta hitam.

Sebelumnya aku tidak sadar kalau ruangan ini dipenuhi dengan sampah makanan instan dan sampah kaleng makanan. Aku terus memperhatikan sampah-sampah kaleng yang banyak bertebaran sampai aku melihat satu kaleng yang dipegang wanita yang sebelumnya kulihat.

Kemudian semua jadi masuk akal dan aku menyadari kebdohanku sendiri. Ya, tepat di sebelah kaleng itu aku melihat sebuah tangan yang tergeletak lemas. dengan susah payah aku menggeser kursi kayu itu tanpa membuat tanganku semakin kesakitan agar aku dapat melihat wajahnya. Setidaknya saat itu aku berharap dia bisa menolongku.

Namun setelah aku melihat wajahnya, aku tahu harapanku sudah hilang. Dia tergeletak lemas dengan luka lebam di seluruh wajah. Matanya terbuka lebar dengan satu mata mengeluarkan darah. Kulitnya sudah benar-benar pucat dan tidak hidup. Aku kembali berteriak hingga suaraku serak.

Aku merasa gila. Aku tahu hidupku sudah tidak lama lagi. Kurasa infeksi di tanganku semakin menyebar membuat tubuhku semakin lemas selain karena kelaparan dan kehausan. Harusnya aku menelepon polisi ketika aku pertama kali melihat wanita itu. Aura gelap di belakang wanita itu bukanlah imajinasiku. dia adalah pelanggan yang membeli banyak bahan makanan waktu itu. Seharusnya aku tahu aku tidak perlu keluar minimarket dan menelepon dari dalam minimarket setelah si pelanggan itu menjauh. Dan seharusnya aku tahu aku harus lari menjauh ketika aku melihat kaleng bertuliskan "HELP" yang susah payah diukir menggunakan kuku oleh wanita malang itu.

Sekarang percuma saja aku menyadari itu semua. Sudah terlambat. Tinggal menunggu waktu hingga aku mati kelaparan atau kehabisan darah. Kau tahu, aku menceritakan ini karena hanya ini yang dapat kulakukan sekarang. Aku tahu kau mungkin tidak percaya. Tapi setidaknya kau bersihkan dulu darah di matamu dan bersihkan juga tubuhmu. Tubuhmu mulai membusuk dan benar-benar bau. Kalau bisa, sekalian kau ambil kaleng bertuliskan "HELP" itu di sebelahmu dan lemparkan padaku. Aku perlu makan.

Hey, apa kau mendengarkanku!?
Hey!?
Kumohon... Hey, bangunlah!

Komentar